MEDAN - Meski kerap dicap sebagai pemain bandel,
namun ada satu hal patut dicontoh dari sosok Otovianus Maniani. Pemain
22 tahun itu rela dipecat dari klubnya, Persiram Raja Ampat, demi
membela Timnas Indonesia.
Manajemen Persiram Raja Ampat memutus kontrak Okto secara sepihak ketika Okto nekat membela timnas sejak ikut dalam pemusatan latihan timnas sebelum Piala AFF digulirkan pada November lalu. Hal tersebut dikarenakan klub Liga Super Indonesia (LSI) yang mengklaim berafiliasi kepada Komite Penyelamat Sepak Bola Indonesia (KPSI) sepakat untuk tidak memberikan pemainnya ke timnas.
Meski dilarang manejemen klub, Okto tetap ngotot bergabung dalam timnas. Hingga akhirnya, Persiram memutus kontrak tanpa memberikan hak pemain jebolan tim PON Papua pada 2008 itu.
"Sampai sekarang mulai putus mau putaran kedua, enggak dibayar satu sen pun. Biarkan, itu hasil keringat saya dan saya doakan dia berhasil membawa tim. Biarkan Tuhan yang membalas. Karena sebenarnya saat tanda tangan kontrak, tidak ada larangan membela timnas," tutur Okto seperti dikutip dari Goal, Minggu (20/1).
Kariernya di kancah sepak bola nasional pun belum mendapat titik terang hingga saat ini. Pemain yang bersinar di AFF Cup 2010 ini pun sekarang berstatus bebas transfer. Beberapa klub ISLyang berniat meminangnya pun mengurungkan niat karena dianggap mbalelo kepada klub lamanya. PSSI sebelumnya juga telah menyatakan akan membantu pemain yang membela timnas dan berisiko tidak memiliki klub seperti yang dialami Okto. Namun, hal tersebut belum terealisasi hingga saat ini.
Okto mengaku tetap menunggu PSSI untuk mewujudkan janjinya. Peristiwa yang dialami Okto menjadi pengalaman beharga buat dirinya. "Bagi saya ini pengalaman. Dan saya adalah contoh untuk pemain lain. Saya serahkan ke diri pemain masing-masing untuk pilihan mau atau tidak membela timnas. Paling tidak, mereka sudah tahu risiko seperti yang saya alami," sebut Okto.
Dirinya pun berharap konflik sepak bola nasional agar pemain tidak menjadi korban atas kepentingan dua kelompok yang bertikai. "Saya ingin dualisme ini segera berakhir. Pemain hanya fokus bermain dan tahunya hanya bermain. Karena mempengaruhi banyak pihak termasuk pemain yang harus dihadapkan pilihan untuk membela timnas." tandasnya.
Hingga kini, sejumlah pemain terbaik ISL belum ada yang mengikuti jejak Okto kecuali Bambang Pamungkas dari Persija Jakarta. Beberapa pemain masih dilanda keraguan, jika membela Timnas, bagaimana dengan nasib keluarga mereka.
Manajemen Persiram Raja Ampat memutus kontrak Okto secara sepihak ketika Okto nekat membela timnas sejak ikut dalam pemusatan latihan timnas sebelum Piala AFF digulirkan pada November lalu. Hal tersebut dikarenakan klub Liga Super Indonesia (LSI) yang mengklaim berafiliasi kepada Komite Penyelamat Sepak Bola Indonesia (KPSI) sepakat untuk tidak memberikan pemainnya ke timnas.
Meski dilarang manejemen klub, Okto tetap ngotot bergabung dalam timnas. Hingga akhirnya, Persiram memutus kontrak tanpa memberikan hak pemain jebolan tim PON Papua pada 2008 itu.
"Sampai sekarang mulai putus mau putaran kedua, enggak dibayar satu sen pun. Biarkan, itu hasil keringat saya dan saya doakan dia berhasil membawa tim. Biarkan Tuhan yang membalas. Karena sebenarnya saat tanda tangan kontrak, tidak ada larangan membela timnas," tutur Okto seperti dikutip dari Goal, Minggu (20/1).
Kariernya di kancah sepak bola nasional pun belum mendapat titik terang hingga saat ini. Pemain yang bersinar di AFF Cup 2010 ini pun sekarang berstatus bebas transfer. Beberapa klub ISLyang berniat meminangnya pun mengurungkan niat karena dianggap mbalelo kepada klub lamanya. PSSI sebelumnya juga telah menyatakan akan membantu pemain yang membela timnas dan berisiko tidak memiliki klub seperti yang dialami Okto. Namun, hal tersebut belum terealisasi hingga saat ini.
Okto mengaku tetap menunggu PSSI untuk mewujudkan janjinya. Peristiwa yang dialami Okto menjadi pengalaman beharga buat dirinya. "Bagi saya ini pengalaman. Dan saya adalah contoh untuk pemain lain. Saya serahkan ke diri pemain masing-masing untuk pilihan mau atau tidak membela timnas. Paling tidak, mereka sudah tahu risiko seperti yang saya alami," sebut Okto.
Dirinya pun berharap konflik sepak bola nasional agar pemain tidak menjadi korban atas kepentingan dua kelompok yang bertikai. "Saya ingin dualisme ini segera berakhir. Pemain hanya fokus bermain dan tahunya hanya bermain. Karena mempengaruhi banyak pihak termasuk pemain yang harus dihadapkan pilihan untuk membela timnas." tandasnya.
Hingga kini, sejumlah pemain terbaik ISL belum ada yang mengikuti jejak Okto kecuali Bambang Pamungkas dari Persija Jakarta. Beberapa pemain masih dilanda keraguan, jika membela Timnas, bagaimana dengan nasib keluarga mereka.

