Semangat juang tinggi tidak cukup bagi pemain Persid Jember, Jawa
Timur, untuk mengarungi kompetisi Divisi Utama PT Liga Indonesia 2013.
Selama lima laga, para pemain Persid menunjukkan semangat tinggi.
Namun saat berhadapan dengan tim yang memiliki level lebih tinggi atau
setara, kelebihan semangat itu tak bisa menutupi kelemahan teknis.
“Kami kekurangan stok pemain depan,” kata Pelatih Persid Muzammil. Duet Sudarmanto dan Hasan Basori kurang memuaskan.
Namun bukan hanya masalah stok pemain depan. Persid sesungguhnya tak
memiliki kreator serangan. Serangan dari lini tengah selalu buntu, dan
akhirnya Persid mengandalkan serangan dari sayap.
Saat salah satu pemain sayap absen, maka Persid kehilangan taringnya.
Ini terlihat dalam laga melawan Persebo, di Notohadinegoro, Sabtu
(2/3/2013) sore.
Pemain sayap kanan Singgih Nurcahyono absen karena terkena kartu
merah, saat melawan Persebaya DU. Akibatnya, tidak ada yang bisa
menggantikan perannya. Serangan sayap Persid timpang, karena hanya
mengandalkan dari kiri dan mencoba lewat tengah.
“Absennya Singgih sangat berpengaruh, karena kami kekurangan
amunisi,” kata Muzammil. Singgih sering menjadi alternatif yang
mengancam gawang lawan, jika duet striker Hasan dan Darmanto mengalami
kebuntuan.
Dari lima laga, Persid hanya satu kali menang, 2 kali seri, dan 2
kali kalah. Kemenangan 1-0 dipetik atas Persipaser Paser, Kalimantan
Timur, di kandang sendiri, Stadion Notohadinegoro, Jember. Dua hasil
imbang juga dipetik di kandang sendiri, yakni masing-masing 1-1 melawan
Deltras Sidoarjo dan Persebo Bondowoso.
Dua kekalahan dialami di Gelora Bung Tomo Surabaya saat melawan
Persebaya DU dan di Bangkalan saat menghadapi Perseba Super.
Masing-masing dengan skor 0-2 dan 0-3.
Dengan demikian Persid terbenam di papan bawah klasemen sementara
Grup III. Kemenangan atas Persipaser dibatalkan, karena klub tersebut
mundur dari kompetisi.
Persid berada di papan bawah dengan 2 poin, yakni dari 4 kali pertandingan, 2 kali seri dan 2 kali kalah. Agregat gol 2-7.
Hasil ini tentu saja jauh dari target manajemen: tiga besar klasemen
agar lolos ke Liga Super. Di papan bawah, Persid terpaut satu angka
dengan PSBK Blitar yang menduduki juru kunci atau peringkat 8.
PSBK sementara ini mengoleksi 1 angka dari tiga kali bertanding, satu
kali seri, dan dua kali kalah. Persebo berada satu strip di atas Persid
dengan 4 kali laga, 2 seri, 2 kali kalah, dengan agregat gol 4-8.
Persekam Metro Kabupaten Malang berada di peringkat 5, dengan 4 kali
pertandingan, 1 kali menang dan 3 kali kalah, dengan agregat 6-10 dan 3
angka.
Kompetisi masih panjang. Peluang bangkit masih ada. Muzammil
menyadari capaian Persid jauh dari memuaskan. Maka, ia akan segera
melakukan evaluasi menyeluruh.
“Penyelesaian akhir kami masih lemah. Anak-anak kurang tenang dan
bersabar. Kalau kehilangan bola, kami kurang cepat melakukan man to man
marking,” kata Muzammil. (berita jatim)


