Azwad dipecat karena beberapa hal mendasar yang harusnya tidak lagi dilanggar oleh pemain ketika masuk dalam suatu tim.
Di tengah euforia usai dua kemenangan di kandang (lawan Persipasi dan
Persika) dan persiapan jelang laga tandang ke Persipon, Pelatih Kepala
PSMS Divisi Utama LPIS Edy Syahputra mengeluarkan keputusan
mengejutkan. Edy Syahputra mendepak satu pemainnya di posisi gelandang
dari tim, yaitu Mohammad Azwad. Pemain naturalisasi berdarah Maroko dan
Jawa Tengah ini dinilai indisipliner dan tidak bisa lagi mematuhi
peraturan inti dalam tim dan keseharian di mes PSMS, Kebun Bunga.
Edy Syahputra menyebutkan keputusan mencoret pemain berusia 19 tahun ini tidak datang tiba-tiba, namun sudah melalui pertimbangan yang matang. “Kalau soal Azwad, enggak usahlah ditanyakan lagi. Dia sudah saya coret dari tim. Dan soal pencoretannya sudah saya sampaikan dalam rapat besar pengurus juga kepada ketua umum. Termasuk ke CEO,” ujar Edy.
Mantan pemain Medan Jaya ini memaparkan, Azwad dipecat karena beberapa hal mendasar yang harusnya tidak lagi dilanggar oleh pemain ketika masuk dalam suatu tim, diantaranya merokok dan kurang bisa menjaga pergaulan dengan lawan jenis atau teman dekatnya. Azwad, kata Edy memang masih muda, tapi tidak serta merta bisa membawa pacarnya ke mes. "Sudah banyak laporan yang masuk ke saya. Katanya Azwad suka pacaran di mes, selain itu beberapa kali terlihat merokok di mes. Saat menerima laporan itu, saya enggak percaya, tapi saya cek langsung dan ternyata benar dan dua kali sudah saya lihat langsung,” tukasnya.
Edy selama ini memang dikenal sebagai pelatih yang sangat santun dan religius. Sehingga, begitu tahu mantan pemain PPSM Magelang tersebut melakukan hal-hal tersebut, Edy tak bisa lagi mentolerirnya. "Kedua faktor itu pelanggaran indisipliner terberat bagi saya dan enggak mungkin saya tolerir lagi. Kan enggak enak sama pemain lain, itu kan bisa mengganggu keutuhan tim. Karena dilakukannya di area mes kalau dilakukannya di luar ya enggak terlalu bermasalah sama saya. Tapi tetap juga dalam bahasa agama, membawa perempuan yang bukan muhrimnya tetap tidak diperbolehka,” tegasnya.
Menurutnya, ini juga akan berlaku buat pemain lainnya di PSMS Divisi Utama LPIS. “Ini berlaku untuk semua pemain, bukan hanya Azwad. Pemain harus tahu soal ini, supaya menjaga sikap. Kalau mereka (pemain) lain kedapatan melakukan ini, apalagi melakukannya di depan saya, maka tahu sendiri risikonya. Saya paling enggak suka kedua hal tersebut dibuat di mes. Semua punya aturan, pemain harus mematuhinya,” bebernya.
Selain soal prilaku, Edy juga sudah mempertimbangkan kebutuhan tim terhadap sosok Azwad. Dari penilaiannya belakangan sang pemain belum menunjukkan kemajuan. "Saya liat dia lemah dalam hal stamina dan juga kerjasama tim. Saya sudah beri dia waktu selama satu bulan untuk dapat memperbaiki semuanya, tetapi tetap saja tidak ada perkembangan, mungkin karena prilakunya yang buruk itu akhirnya berdampak pada performanya di lapangan," ungkapnya.
Edy menjelaskan, tim tidak akan terganggu dengan pencoretan Azwad. Apalagi, dalam empat laga yang dilakoni Saktiawan Sinaga dkk, Azwad belum bisa turun lapangan. Dia masih terganjal administrasi alih status dari amatir ke profesional. “Kami sudah menjalani beberapa partai tanpa Azwad, dan semua berjalan baik-baik saja. Ya enggak ada masalah,” lanjutnya.
Sementara itu, CEO PSMS LPIS, Wimvi Tri Hadi mengakui sudah menerima laporan dari pelatih. Wimvi menyebutkan Selasa malam segera memberitahukan ke pemain soal putusan tim pelatih. Pada intinya, menurut Wimvi, dirinya menyerahkan semua keputusan pelatih soal pemain. “Ya mutlak keputusan pelatih. Karena yang berhubungan dengan pemain itu kan pelatih. Saya sudah dengar alasannya dari pelatih, saya rasa itu wajar, dan sang pemain dianggap tak bisa membantu tim,” pungkasnya.
Edy Syahputra menyebutkan keputusan mencoret pemain berusia 19 tahun ini tidak datang tiba-tiba, namun sudah melalui pertimbangan yang matang. “Kalau soal Azwad, enggak usahlah ditanyakan lagi. Dia sudah saya coret dari tim. Dan soal pencoretannya sudah saya sampaikan dalam rapat besar pengurus juga kepada ketua umum. Termasuk ke CEO,” ujar Edy.
Mantan pemain Medan Jaya ini memaparkan, Azwad dipecat karena beberapa hal mendasar yang harusnya tidak lagi dilanggar oleh pemain ketika masuk dalam suatu tim, diantaranya merokok dan kurang bisa menjaga pergaulan dengan lawan jenis atau teman dekatnya. Azwad, kata Edy memang masih muda, tapi tidak serta merta bisa membawa pacarnya ke mes. "Sudah banyak laporan yang masuk ke saya. Katanya Azwad suka pacaran di mes, selain itu beberapa kali terlihat merokok di mes. Saat menerima laporan itu, saya enggak percaya, tapi saya cek langsung dan ternyata benar dan dua kali sudah saya lihat langsung,” tukasnya.
Edy selama ini memang dikenal sebagai pelatih yang sangat santun dan religius. Sehingga, begitu tahu mantan pemain PPSM Magelang tersebut melakukan hal-hal tersebut, Edy tak bisa lagi mentolerirnya. "Kedua faktor itu pelanggaran indisipliner terberat bagi saya dan enggak mungkin saya tolerir lagi. Kan enggak enak sama pemain lain, itu kan bisa mengganggu keutuhan tim. Karena dilakukannya di area mes kalau dilakukannya di luar ya enggak terlalu bermasalah sama saya. Tapi tetap juga dalam bahasa agama, membawa perempuan yang bukan muhrimnya tetap tidak diperbolehka,” tegasnya.
Menurutnya, ini juga akan berlaku buat pemain lainnya di PSMS Divisi Utama LPIS. “Ini berlaku untuk semua pemain, bukan hanya Azwad. Pemain harus tahu soal ini, supaya menjaga sikap. Kalau mereka (pemain) lain kedapatan melakukan ini, apalagi melakukannya di depan saya, maka tahu sendiri risikonya. Saya paling enggak suka kedua hal tersebut dibuat di mes. Semua punya aturan, pemain harus mematuhinya,” bebernya.
Selain soal prilaku, Edy juga sudah mempertimbangkan kebutuhan tim terhadap sosok Azwad. Dari penilaiannya belakangan sang pemain belum menunjukkan kemajuan. "Saya liat dia lemah dalam hal stamina dan juga kerjasama tim. Saya sudah beri dia waktu selama satu bulan untuk dapat memperbaiki semuanya, tetapi tetap saja tidak ada perkembangan, mungkin karena prilakunya yang buruk itu akhirnya berdampak pada performanya di lapangan," ungkapnya.
Edy menjelaskan, tim tidak akan terganggu dengan pencoretan Azwad. Apalagi, dalam empat laga yang dilakoni Saktiawan Sinaga dkk, Azwad belum bisa turun lapangan. Dia masih terganjal administrasi alih status dari amatir ke profesional. “Kami sudah menjalani beberapa partai tanpa Azwad, dan semua berjalan baik-baik saja. Ya enggak ada masalah,” lanjutnya.
Sementara itu, CEO PSMS LPIS, Wimvi Tri Hadi mengakui sudah menerima laporan dari pelatih. Wimvi menyebutkan Selasa malam segera memberitahukan ke pemain soal putusan tim pelatih. Pada intinya, menurut Wimvi, dirinya menyerahkan semua keputusan pelatih soal pemain. “Ya mutlak keputusan pelatih. Karena yang berhubungan dengan pemain itu kan pelatih. Saya sudah dengar alasannya dari pelatih, saya rasa itu wajar, dan sang pemain dianggap tak bisa membantu tim,” pungkasnya.

